Posts in "foto jurnalistik"
Showing posts with label foto jurnalistik. Show all posts
wpph-logo
Fotografer asal Swedia Paul Hansen berhasil memenangkan World Press Photo 2013 dengan foto berlatar perang antara Palestina dan Israel. Kompetisi World Press Photo sudah bergulir selama 55 tahun dan menjadi tolak ukur di dalam dunia foto jurnalistik.

Kompetisi ini menghadirkan jembatan antara professional dengan masyarakat umum. Keuntungan yang didapat jika memenangkan kompetisi ini antara lain menjadi sorotan media di seluruh dunia dan dilihat oleh ratusan juta pasang mata. Seluruh foto dari pemenang kompetisi akan dipamerkan di 45 negara berbeda sepanjang tahun, setelah itu akan dijadikan buku kompilasi.

Kompetisi ini memiliki tingkat impresi yang sangat tinggi, lebih dari dua juta orang telah melihat pameran dan buku yang diterbitkan oleh penyelenggara. Kompetisi ini dinilai oleh tim juri terkemuka yang terdiri dari para ahli jurnalisme visual yang mewakili berbagai aspek profesi. Komposisi juri terus berubah setiap tahunnya untuk menjaga kualitasnya. Hasil foto dari kompetisi ini tidak hanya menjadi gambaran kehidupan manusia di dunia, melainkan sebagai referensi gaya dari foto jurnalistik modern.

Kompetisi Foto Jurnalistik Dunia ini terbagi dalam 10 kategori, yaitu:
1. Foto Berita (Spot News)
2. Berita Umum (General News)
3. Manusia dalam Berita (Peoples in the News)
4. Olahraga (Sports Action)
5. Olahraga (Sports Features)
6. Kontemporer (Contemporary Issues)
7. Kehidupan Sehari-hari (Daily Life)
8. Potret (Portraits)
9. Seni (Arts and Entertainment)
10. Alam (Nature)


Faktor penilaian yang paling utama adalah foto bisa merepresentasikan isu, situasi, dan tingkat kreativitas visual dan persepsi. Pemenang utama akan mendapat hadiah 10.000 Euro dan berlibur ke Amsterdam. Tidak hanya itu, sebuah kamera terbaru dari Canon juga disediakan penyelenggara. Terakhir, sebuah Golden Eye Award akan menjadi miliki Anda.

Berikut adalah beberapa daftar pemenang World Press Photo 2013

Pemenang Pertama (World Press Photo of the Year)
Gaza Burial – Paul Hansen

[caption id="attachment_3184" align="aligncenter" width="600"]Paul Hansen - Gaza Burial Techincal Information: Camera: Canon EOS-1D Mark III, Shutter Speed: 1/800, ISO: 400, F-STOP: 5, Focal Length: 16mm[/caption]

Pemenang Pertama Spot News
Gaza - Bernat Armangue

[caption id="attachment_3210" align="aligncenter" width="600"]Gaza - Bernat Armangue Techincal Information: Camera: Canon EOS-1D X, Shutter Speed: 1/160, ISO: 320, F-STOP: 1.2, Focal Length: 50mm[/caption]

Pemenang Kedua Spot News
Intterogation – Emin Ozmen

[caption id="attachment_3189" align="aligncenter" width="600"]Intterogation – Emin Ozmen Techincal Information: Camera: Canon EOS 5D, Shutter Speed: 1/30, ISO: 1600, F-STOP: 2.8, Focal Length: 24mm[/caption]

Pemenang Ketiga Spot News
Collaborator – Adel Hana

[caption id="attachment_3191" align="aligncenter" width="600"]Collaborator - Adel Hana Techincal Information: Camera: Canon EOS-1D Mark II, Shutter Speed: 1/125, ISO: 500, F-STOP: 2.8, Focal Length: 16mm[/caption]
[caption id="" align="alignleft" width="255"] Steve McCurry saat berada di Nepal[/caption]

Anda kenal Steve McCurry? Sama, saya juga belum pernah berkenalan secara langsung dengannya. Tapi dari berbagai informasi yang berseliweran, dia adalah fotografer hebat kelas dunia. Salah satu karya monumentalnya adalah foto ikonik Afghan Girl yang menjadi cover majalah National Geographic edisi Juni 1985. Fotografer tersebut berhasil mengabadikan wajah gadis bernama Sharbat Gula dengan ekspreksi yang kuat. Matanya yang hijau menyorot tajam seakan menyiratkan kesedihan sekaligus kemarahan. Foto tersebut berhasil menjadi salah satu cover terbaik Majalah National Geographic hingga saat ini dan namanya juga masuk dalam 100 Best Pictures of magazine.


Lebih dari 30 tahun McCurry menjalani profesinya sebagai fotografer profesional yang hasil karyanya menghiasai berbagai cover majalah, buku, pameran, dan lainnya. Beliau juga telah menggondol aneka penghargaan prestisius seperti Robert Copa Gold Medal, National Press Photographers Award, World Press Photo contest, dan sebagainya.


[caption id="attachment_2916" align="aligncenter" width="600"] Cover "Afghan Girls" di National Geographic yang legendaris. (foto: daviegan.com)[/caption]

Dalam wawancaranya belum lama ini dengan Sara Rosso dari WordPress.com, McCurry memberikan beberapa insight menarik seputar profesinya sebagai fotografer dan alasannya membuat photo blog sebagai tempat untuk memamerkan hasil karyanya.


McCurry menjelaskan bagaimana fotografi sebagai karier telah berubah selama beberapa dekade terakhir, dan peran penting sekarang dimainkan oleh internet. Menurutnya, perbedaan utama antara memotret saat ini dibandingkan dengan di masa lalu adalah, 'bahwa orang ingin Anda untuk mengirimkan gambar dan bahwa Anda memotret dengan kamera digital'. Dia mengakui  bagaimana kehadiran web sekarang  menjadi penting bagi keberhasilan fotografer.


Untuk itu, dia membuat homepage pribadi  stevemccurry.com yang menampilkan biografi, hasil karya, pameran, hingga portofolio. Selain itu, McCurry juga beradaptasi dengan trend yang ada sekarang yaitu photo blog sebagai tempat untuk memamerkan hasil karya foto-foto terbaiknya.


Terlepas dari seberapa sukses Anda, penting bagi Anda untuk menghabiskan waktu memotret hal-hal yang penting. Anda perlu memahami hal-hal yang memiliki arti, dan bukan apa yang orang lain anggap penting bagi Anda. Memiliki sebuah blog adalah salah satu cara termudah untuk menampilkan hasil karya Anda ke khalayak yang lebih luas.



Untuk photo blog, dia menggunakan jasa WordPress dengan alamat di stevemccurry.wordpress.com. Di blog tersebut, kita bisa melihat foto-foto jurnalistiknya yang mengagumkan dan inspiratif. Kita memang harus belajar banyak dari sesepuh seperti McCurry. Beliau dengan passion-nya yang tinggi melanglang buana menuju ke tempat-tempat terpencil demi kecintaannya pada profesi.


Dalam kaitannya dengan fotoblog, kita juga perlu mempelajari metode yang dipakaianya. Baginya, apa yang penting adalah gambar individu. McCurry berkata, "Saya menempatkan foto dengan cerita, sehingga tentu saja foto-foto tersebut harus terkumpul secara koheren. Tapi yang paling penting adalah bahwa setiap gambar berdiri sendiri dengan tempat dan perasaannya sendiri. Saya pikir definisi gambar yang hebat adalah salah satu yang tetap bersama Anda, yang Anda tidak bisa melupakan."


Berikut ini contoh beberapa hasil karya yang bisa Anda nikmati di photo blog McCurry.


[caption id="" align="aligncenter" width="450"]Fisherman on Inle Lake, Myanmar/Burma Myanmar/Burma[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="600"]Woman working in a field devastated by volcanic debris and flood waters, in Java Java, Indonesia[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="600"]Berenang Indonesia[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Keindahan Rio Rio, Brazil[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Tibet Tibet[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="418"]Morocco Morocco[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Italy Italy[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Niger Niger[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="672"]India India[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Omo Valley, Ethiopia Omo Valley, Ethiopia[/caption]
[caption id="" align="alignnone" width="630"]Yemen Yemen[/caption]
[caption id="" align="aligncenter" width="630"]Bangladesh Bangladesh[/caption]
[caption id="" align="aligncenter" width="434"]Ethiopia Ethiopia[/caption]

Teknik Memotret Ala Steve McCurry:


Dikutip dari daviegan.com, ada beberapa poin teknik yang biasa dilakukan Steve McCurry saat memotret:



  • Steve McCurry sangat jarang menggunakan lampu flash pada tugasnya. Dia juga hampir tidak memakai cahaya tambahan (fill-light) pada subyeknya.

  • Dia menjauh dari sinar matahari yang cerah, khususnya untuk fotografi potret dan lebih memilih untuk berada di bawah nuansa shade atau indoor. Dia memperhitungkan bahwa subyek akan memicingkan mata ketika di bawah siang hari yang terik. Semua foto portrait-nya memang memperlihatkan mata yang terbuka lebar dan Anda bisa melihat beberapa pantulan cahaya di mata mereka. Sangat memesona.

  • Dia jarang menggunakan mode manual exposure untuk saat ini, lebih memilih untuk menggunakan modus program bukan. Alasannya - kamera digital terbaru dapat membuat keputusan eksposur jauh lebih cepat daripada otak manusia, terutama selama transisi dari siang hari yang cerah ke subyek yang gelap.

  • Dia menegaskan bahwa waktu hari yang berbeda akan memberikan hasil yang sangat berbeda bahkan dengan subyek yang sama. Jadi dia akan kembali menemui subyek di waktu yang berbeda hanya untuk menangkap foto elusive yang 'sempurna'.

  • Dia sering menggunakan lensa 24-70mm dalam karyanya karena  percaya lensa ini memberi jarak yang paling nyaman untuk bekerja dengan subyek. Dia lebih memilih untuk tidak bekerja dengan lensa ultra-wide angle atau fish-eye karena menganggap sebagai alat pemikat (gimmick) dan penonton cenderung bosan setelah melihat beberapa foto saja. Distorsi yang disebabkan oleh lensa ultra-wide angle juga menyebabkan orang melihat dari hasil foto yang terlihat membesar, bukan berfokus pada kebaikan, keindahan dan emosi dari foto-foto.

  • Dia adalah master komposisi dalam seni fotografi. Dan teknik utamanya menggunakan juxtaposing atau 'menempatkan sisi-demi-sisi untuk perbandingan dan kontras' di sebagian besar foto-fotonya yang hebat. Teknik menyandingkan ini tidak mudah dan dibutuhkan usaha yang besar dan mata yang tajam pada komposisi untuk menjadi karya seni mengagumkan.

  • Dia percaya dengan turun ke bawah dan berkotor-kotor akan mendapatkan gambar terbaik. Dia mencontohkan banyak tentang bagaimana ia mengalami hujan lebat, tembakan musuh, 3 hari dalam banjir, dan sebagainya, untuk mendapatkan gambar yang bagus. Jadi jika Anda memilih untuk melakukan perjalanan dengan kemewahan, lupakan fotografi yang hebat.

  • Kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan foto yang bagus. Jika  berada di lokasi yang bagus dengan latar belakang mengagumkan, Anda harus tetap tinggal dan menunggu ada subyek atau orang menarik  muncul untuk lewat di depan Anda.

  • Ia percaya pada anggapan 'early bird catches the worm'. Bangun pagi-pagi dan sampai ke lokasi awal ketika yang lainnya masih tidur, maka Anda akan beruntung dengan mendapatkan hasil foto menakjubkan.



Lagi-lagi sebuah dilema terjadi pada seorang fotografer jurnalistik. Kali ini menimpa seorang fotografer lepasan bernama R. Umar Abassi yang berhasil mengabadikan seorang pria yang terjebak di rel kereta api sesaat sebelum ditabrak.

Pria malang itu bernama Ki Suk Han (58 tahun), ia diduga didorong seorang pria hingga terjatuh ke rel kereta api bawah tanah 49th Street Sation. Korban diduga terlibat adu mulut sebelum kejadian, pria asal Korea tersebut tidak sempat menyelamatkan diri sampai akhirnya kereta yang melaju kencang menabraknya.

[caption id="attachment_2909" align="aligncenter" width="460"] Korban Terlibat Adu Mulut Sebelum Kejadian[/caption]

Ribuan pertanyaan dan tanggapan pun langsung bermunculan di twitter. “Mengapa fotografer ini memotretnya, bukan menolongnya?” “Mengapa foto ini dipublikasikan?” dan berbagai pertanyaan lain.

Ketika diwawancarai, Umar yang memotret kejadian ini mengatakan, “Saya mencoba berlari dan memberikan tanda dengan lampu flash kamera, tetapi mereka (operator) sudah tidak bisa menghentikan keretanya”. Jika melihat foto ini, kami merasa tidak perlu menceritakan apa yang terjadi setelahnya. Intinya sesusatu yang mengerikan.

Dilema, ini benar-benar dilema. Sebagai seseorang yang pernah bekerja di media, saya tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja. Berbagai pertanyaan yang muncul di masyarakat pun ragu untuk dijawab. Kenapa foto ini langsung dijadikan headline di surat kabar? Apa yang membuat foto ini layak ditayangkan? atau bagaimana perasaan jika keluarganya melihat foto ini? Tapi, bagaimana pula jika saya adalah orang yang bekerja di surat kabar tersebut.

Mungkin Anda yang bisa menjawabnya?

Manipulasi foto dianggap tabu dalam dunia jurnalistik. Tapi, apakah media massa benar-benar bebas dari rekayasa foto? Sebenarnya apa saja batasan-batasan pada rekayasa digital pada foto jurnalistik?


[dropcap style="1" size="3"]B[/dropcap]eberapa waktu belakangan ini beberapa kasus seputar rekayasa foto digital di media mencuat ke permukaan. Secara umum, yang melakukan rekayasa foto ini ada dua pihak. Pertama, dari pihak nara sumber atau subyek berita terutama kalangan pemerintah yang berkuasa untuk pencitraan. kedua, dari pihak penerbit atau media massa agar foto yang ditampilkan terlihat lebih bagus.

Dari pihak nara sumber, ada beberapa kasus yang menarik. Diantaranya yang belum lama ini santer adalah ketika prosesi pemakaman mendiang Presiden Korea Utara, Kim Jong-Il. Korean Central News Agency merilis foto arak-arakan pemakaman yang terlihat berbaris sempurna. Foto tersebut dikirim ke agensi foto pers Eropa yaitu AFP dan Reuters. Kedua agensi berita inipun langsung mempublikasikan foto tersebut, begitu juga dengan New York Times. Hingga tak lama berselang, foto yang diambil dari angle sama dirilis oleh agensi berita Jepang, Kyodo News, dan didistribusikan oleh Associated Press. AP kemudian menghubungi NYT untuk mewaspadai adanya manipulasi foto. NYT kemudian meminta  pakar digital forensik Hany Farid dari Dartmouth College, untuk menganalisis. Hasil analisisnya menyebutkan kalau foto yang dirilis agensi berita Eropa tersebut telah direkayasa dengan Photoshop untuk menghilangkan gambar seorang lelaki di luar barisan agar terlihat sempurna. Setelah mengetahui hal itu, AFP dan Reuters-pun mencabut foto tersebut.




Mengapa Korean Central News Agency sampai melakukan rekayasa foto? Korea Utara adalah negara komunis yang melakukan kontrol ketat di setiap lini, termasuk media. Tak heran jika Korean Central News Agency sebagai corong pemerintahan Korea Utara melakukan rekayasa foto. kasus rekayasa foto juga terjadi beberapa bulan sebelumnya, yaitu pada pertengahan Juli 2011. Agensi berita Korea Utara tersebut merilis foto bencana banjir yang telah direkayasa dan didistribuskan oleh AP. Meskipun tidak ada foto pembanding, tetapi analis mempertanyakan akurasi gambar karena terlihat keanehan pada warga yang berjalan dalam kondisi banjir, pakaiannya tidak terlihat basah.

Negara berhaluan komunis lainnya, yaitu China, juga melakukan rekayasa foto sebulan sebelumnya (Juni 2011). Ceritanya adalah saat beberapa pejabat Pemerintah daerah Huili sedang memeriksa jalan rusak. Seorang pekerja yang menyertai mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Tapi ketika akan dipublikasikan, pekerja memutuskan untuk mengganti latar belakang asli agar terlihat sangat baik. Caranya dengan meng-crop gambar pejabat dan memasukkan pada latar belakang berbeda. Mungkin karena yang mengolah foto masih amatir, hasilnya malah terlihat aneh. Para pejabat tersebut seperti melayang (levitation) tidak menginjak bumi. Tak lama kemudian, foto tersebut ramai menjadi gunjingan pengguna internet di China, bahkan dibuat parodinya. Pemerintah Huili pun menghapus semua informasi yang relevan, menegur pekerja yang menangani foto dan mengeluarkan permintaan maaf pada Forum Tianya dan Weibo Sina.com.

[caption id="attachment_1570" align="aligncenter" width="520" caption="Foto parodi pejabat Huili"][/caption]

Itu hanya sedikit contoh narasumber yang melakukan rekayasa foto demi pencitraan, masih banyak lagi kasus serupa kalau telaten mencarinya. Sekarang beralih ke pihak penerbit atau media massa. Salah satu kasus yang mengemuka adalah saat Washington Post pada 13 Januari 2012 yang lalu,  menampilkan foto 14th Street Bridge pada halaamn utama untuk mengenang 30 tahun tragedi kecelakaan Air Florida Flight 90. Foto memperlihatkan suasana jembatan saat sunset dengan pesawat yang berada di sebelah kiri atas frame. Untuk menampilkan gambar yang bagus tersebut, staff fotografer Bill O'Learry menggunakan teknik High Dynamic Range (HDR) untuk mengolah foto. Fakta tersebut didukung oleh pencantuman informasi penggunaan teknik pada bagian caption bertuliskan 'This image is a composite created by taking several photos and combining them with computer software to transcend the visual limitations of standard photography'. Kontroversipun timbul. Apakah penggunaan foto HDR tepat untuk ilustrasi berita?

[caption id="attachment_1571" align="aligncenter" width="650" caption="Foto di halaman utama Washington Post yang memicu kontroversi"][/caption]

Sean Elliot, presiden National Press Photographers Association (NPPA) dengan tegas menolaknya. "HDR tidak sesuai untuk dokumentasi foto jurnalistik," kata Elliot yang mengacu pada kode etik NPPA. Menurutnya, fotografer harus menghormati integritas mengenai momen digital. Foto HDR dianggapnya tidak berbeda dengan manipulasi digital lainnya. Kepada Poynter, Elliot mengatakan kalau dengan menggunakan HDR, Washington Post telah mengombinasikan momen berbeda, membuat gambar yang sebenarnya tidak ada pada kenyataan.

Di sisi lain, John Omvik, V.P. Marketing, Unified Color Technologies, tidak setuju dengan pendapat Elliot dan pandangan NPPA. HDR dianggapnya melakukan pekerjaan yang paling akurat merekonstruksi jangkauan dinamis dari gambar aslinya pada saat foto itu diambil. "Dari saat Anda membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari, Anda bisa lihat dunia sekitar dengan HDR," ujarnya. Menurutnya, tidak ada kamera digital ataupun film yang secara akurat dapat mereproduksi sistem seperti penglihatan manusia dalam menangkap dan memproses gambar secara real time.
Jika Washington Post dengan sengaja melakukan manipulasi foto, beda halnya dengan yang menimpa koran Sacramento Bee. Perusahaan media ini merasa kecolongan karena salah satu fotografernya, Bryan Patrick telah melakukan rekayasa foto. Mengetahui masalah ini, dengan tangkas Sacramento Bee melakukan ralat dan permohonan maaf. Bahkan melakukan tindakan ekstrim yaitu memecat Bryan Patrick. Pihak Bee menyatakan etika kebijakan perusahaannya dengan tegas melarang manipulasi seperti foto-foto dokumenter. Hal ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai inti perusahaan, karena salah mengartikan keakuratan momen.

----

Dari beberapa kasus di atas, terlihat bahwa rekayasa foto jurnalistik memancing pro dan kontra. Pihak yang berkepentingan demi pencitraan, estetika atau hal lainnya akan melakukan manipulasi atau rekayasa foto. Ada juga pihak yang kontra atau tidak setuju dengan rekayasa digital pada jurnalistik.

Tetapi apakah dunia jurnalistik secara umum benar-benar bebas dari rekayasa? Kalau boleh jujur, hanya sedikit media yang benar-benar netral dan independen. Selalu ada kepentingan dibaliknya. Artikel yang dibuat oleh reporter mungkin apa adanya, tetapi ketika sampai ke tangan pembaca belum tentu seperti itu. Bisa juga reporter disuruh untuk menulis sesuai dengan angle yang diminta karena maksud tertentu. Fakta bisa digunakan untuk menggiring suatu opini.

Dalam fotografi jurnalistikpun, sang pewarta foto seringkali mengatur subyek atau narasumber agar tampil sesuai dengan yang diharapkan. Pada kamera diatur bokeh, white balance, kemudian dicrop, dibuat black and white dan sebagainya. Seringkali fotografer memotret tidak apa adanya. Hal ini sudah biasa dilakukan. Secara umum pengaturan pada tingkat sederhana seperti perbaikan cahaya, pengubahan menjadi black and white, dan cropping masih dianggap wajar. Walaupun ini juga sudah masuk dalam ranah rekayasa digital. Bagian inilah yang kadang membingungkan karena batasan-batasan yang kurang tegas.

NPPA pada halaman kode etik menyebutkan editing harus mempertahankan integritas konten gambar foto dan konteks. Kemudian jangan memanipulasi gambar atau menambahkan atau mengubah suara dengan cara apapun yang dapat menyesatkan pemirsa atau tidak menggambarkan subyek. Kalau mengacu pada hal itu, yang dilakukan Bill O'Learry dari Washington Post tidak menyalahi kode etik. Tergantung dari sudut mana menafsirkannya. Jika masuk golongan garis keras, maka segala macam rekayasa digital apapun bentuknya tidak dihalalkan. Jika golongan moderat, maka masih memperbolehkan rekayasa digital sampai batas tertentu sepanjang tidak mengubah makna atau tampilan foto secara keseluruhan. Tapi jika golongan bebas, ya terserah saja.

Kalau menurut Anda, bagaimana?